Senin, 22 Maret 2010

Kembalinya Si Buta dari Gua Hantu

Sudah Terjual
Barda Mandrawata tertegun "melihat" sosok di mukanya. Meski matanya buta, ia tahu seperti berdiri di depan sebuah cermin. Tegak di hadapannya seorang buta lain, perawakannya bagai pinang dibelah dua dengan dirinya. Bahkan seekor monyet menggelantung di pundaknya.

"Aku murid Si Mata Malaikat"

Seketika suasana senyap. Ternyata ia adalah murid perguruan Mata Malaikat, jawara yang tewas di tangan Barda. Telinga Barda dikerahkan untuk memprediksi gerakan kembarannya. Begitu Wanara, monyet Barda, meloncat mencakar monyet musuhnya, dua pendekar itu saling menyerang. Mana yang tulen mana yang palsu, tak dapat dibedakan.

Itulah Si Buta Kontra Si Buta (1969). Sebuah edisi tergolong istimewa dari seri komik Si Buta dari Gua Hantu karya almarhun Ganes T.H. Sebab ia satu-satunya edisi yang berwarna. Banyak yang tak tahu, bahkan bagi mereka yang tumbuh remaja tahun 1970-an, sampai tahun lalu seri itu diterbitkan ulang oleh Agus Leonardus, fotografer Yogya. "Saya cetak 2.000 eksemplar."

Selain berwarna, itu adalah edisi yang paling tipis, 32 halaman, dan format ukurannya sedikit lebih besar dibanding komik lain. Menurut Syamsudin, pendiri Komik Indonesia, sebuah wadah bagi penggemar komik Indonesia, saat itu Ganes bereksperimen-mewarnai Si Buta karena melihat derasnya serbuan komik Tintin yang full-colour. Agus juga mencetak ulang: Prahara di Bukit Tandus (1969). Ini adalah seri Si Buta yang sebelum dibukukan pernah terbit di majalah Eres. Sebuah majalah komik yang dahulu diasuh oleh komikus beken Jan Mintaraga, Zaldy, Hans Djaladara, dan Ganes T.H. sendiri.

Si Buta dari Gua Hantu tak syak adalah karya agung Ganes T.H. Dari tahun 1967 sampai 1989, Ganes memproduksi 19 seri Si Buta, dengan jalinan kisah sering bertautan. Penerbitan ulang di atas memancing generasi yang sudah bersentuhan dengan komik pada 1970-an bernostalgia. Apalagi seri ulang lain bakal diluncurkan akhir Februari ini oleh putra sulung almarhum Ganes T.H.

Diproduksi pertama tahun 1967 oleh UP Soka Jakarta, kisah petualangan Barda, pemuda yang menyayat matanya sendiri dengan golok demi memecahkan rahasia ilmu suara Mata Malaikat, penjahat buta yang membunuh Eka Paksi (ayah Barda) ini memang melejitkan nama Ganes. Pada zamannya ia adalah komikus dengan bayaran tertinggi dibanding yang lain. Namanya makin populer setelah seri-seri si pendekar buta diangkat ke bioskop.

Mengenang Si Buta adalah mengenang bahwa kita memiliki sosok imajinasi pendekar kukuh nan teguh. Tampan, dengan bibir tipis, berambut ikal sepunggung, pakaiannya terbuat dari sisik ular, tanpa kancing, hingga dada bidangnya selalu terlihat.

Seorang jantan, dengan dagu yang mengesankan bakal ditumbuhi cambang kasar, mirip para koboi. Hidup sendirian, hanya ditemani monyet setia si Wanara (yang dalam film berubah nama menjadi Kliwon), ia mengelana, menuruti ke mana kaki melangkah. Seorang pejalan yang memasuki desa-desa mati di seluruh Indonesia, karena banyak warganya terbunuh atau terserang wabah. Desa-desa dengan bau anyir darah, bangkai menyengat. Lalu melibatkan diri dalam kekacauan, tanpa imbalan.

Telinganya sensitif. Di tengah perkelahian massal, sabetan tongkatnya mampu membedakan kawan dan lawan. Ia mampu mendengar sampai risik atau kelebat terjauh. "Aku dapat mendengar detak jantung yang masih sangat lemah di dalam rahim Nona Kenanga," katanya dalam sebuah petualangan. Bahkan, suara janin pun, ia mampu menangkap. Apalagi membedakan degup berdebar seorang yang penuh kasih tau terbakar dengki. Degup seorang yang tulus atau pengkhianat.

Masih aktualkah membaca pendekar yang keberadaannya seperti angin, sulit dilacak ini? Jawabannya: masih. Terutama karena dalam fantasi dunia komik, bisa disebut dialah pendekar yang paling mengenal watak manusia Indonesia. Jauh sebelum konflik internal membelit Poso kini, pada 1970-an Si Buta telah melanglang ke sana. Dari Banten, ia menyusuri Jawa Timur, Bali, Lampung, Sumbawa, Poso, Donggala, Tinombala, Flores, sampai Kalimantan. Si Buta hidup dalam latar kolonialisme Belanda, tapi musuh Si Buta terutama adalah penguasa-penguasa lokal.

Kita tahu, wartawan kawakan almarhum Mochtar Lubis pernah menulis perihal karakter munafik manusia Indonesia. Ganes tak berbicara tentang politik. Tapi pengelanaan Si Buta memperlihatkan bahwa di tiap pulau kita adalah umum dijumpai penguasa berwatak bunglon, serakah. Walaupun demikian Si Buta diperlihatkan Ganes tak memahami kodrat manusia secara hitam-putih. Pembaca bisa menikmati bagaimana dalam kisah Si Buta, senista-nistanya orang, ia dapat kembali baik. Sapu Jagat—musuh tangguh Si Buta, misalnya, akhirnya tobat dan menjadi seorang Katolik yang saleh.

Pendekar kita ini agaknya beranggapan pada dasarnya manusia lahir dalam keadaan suci. Lingkungan yang membentuknya menjadi bejat. Dan lingkungan Indonesia sangat rentan untuk menjadikan manusia mudah tergoda uang dan kekuasaan. Itulah mungkin yang jadi alasan mengapa ia memiliki rasa perhatian tinggi pada bayi. Dalam beberapa edisi diperlihatkan Si Buta mempertaruhkan nyawa menyelamatkan bayi dari lingkungannya yang bobrok. Dalam Reo Manusia Serigala dari Gunung Tambora, digambarkan Si Buta berusaha keras menjinakkan kembali Reo yang sedari balita diculik serigala liar. Mengembalikan lagi ke harkatnya sebagai manusia.

Barda alias Si Buta adalah pendekar yang juga tercatat paling sering mengalami momen amukan alam di Nusantara: gempa bumi, banjir badang, longsor, sampai kebakaran hutan. Dalam Iblis Pulau Rakata (1988), yang seting waktunya seminggu sebelum 27 Juli 1883 (hari Krakatau meletus), diceritakan ia mengiringi tiga narapidana yang oleh pemerintah kolonial diasingkan ke Sawahlunto. Dalam perjalanan dari Selat Sunda, kapal mereka dihantam badai besar bergulung-gulung. Sang nakhoda berkata, "Itu tadi namanya Tzunami—gelombang dahsyat yang ditimbulkan oleh gempa bawah laut…."

Dalam Misteri di Borobudur (1967), dengan latar muntahan lahar Gunung Merapi, ditampilkan ia bertempur dengan Sang Hyang Watu Geni, sosok yang ternyata kakeknya sendiri. Meskipun pengarang Ganes tak pernah ke Larantuka, dalam Tragedi Larantuka (1979) ia memperlihatkan Si Buta berkelahi di antara longsor batu-batu. Kota mungil di Nusa Tenggara Timur itu memang diapit bukit dan laut. Dan bila hujan lebat kerap batu-batu besar dengan suara bergemuruh menggelundung ke bawah.

Lawan-lawan Si Buta selalu diperlihatkan tangguh. Dalam beberapa pertempuran Si Buta hampir kalah, merangkak-rangkak kehilangan tongkatnya. "Paling seru saat Barda terkena racun kecubung biru," kata Andy Wijaya, pemilik kios komik di Mal Ambassador, Jakarta. Racun itu karena serangan pendekar Bidar dari Sulawesi Tengah dalam seri Perjalanan ke Neraka (1976). Penawarnya daun seruntul-serintil yang didapat pada edisi selanjutnya dalam Kabut Tinombala (1978).

Ganes sepertinya mencomot ilham cerita dari mana saja. Banjir Darah di Pantai Sanur (1968), misalnya. Ini cerita tujuh pendekar di bawah pimpinan Si Buta berangkat ke Sanur, Bali, menumpas garong. Tapi barang siapa membacanya, segera mafhum ide dasarnya diambil dari The Seven Samurai, film karya Akira Kurosawa. Adegan awal komik, Si Buta menyelamatkan bayi yang diculik bandit, mengingatkan kita ketika aktor Takashi Shimura memerankan veteran Samurai bernama Kanbei menyelamatkan seorang bayi yang disandera seorang bandit di sebuah gubuk.

Yang mengasyikkan dari pengelanaannya, Barda sering mendapat ilmu langka. Dari Bali itu ia mendapat ilmu leak hitam. Ilmu dahsyat yang dapat menghancurkan tembok dalam sekejap. Tapi ilmu musuhnya pun tak kalah ganjil. Mata Malaikat dapat bangkit, meski telah terbunuh. Seruling sukma, si cebol dari Merapi, manusia jenius yang berkali-kali muncul dalam seri Si Buta, banyak mencipta peralatan elektronik yang tak ada pada zamannya.

Banyak petualangan menyeret Si Buta pada wilayah Nusantara yang angker, yang memiliki alam dimensi lain. Di sana ia bertemu satwa melata, unggas, amfibi, reptil-reptil aneh atau manusia kelong wewe, manusia kodok. Tak seperti pengarang Djair saat menampilkan Djaka Sembung, Ganes T.H. tak pernah memperlihatkan Si Buta bersembahyang. Namun menghadapi semua ini pada akhirnya Si Buta menghela napas, tepekur, menggumam sendiri, mengingat Sang Khalik: "Siapakah yang bisa memecahkan rahasia alam semesta yang serba aneh dan kadang tak masuk akal…?"

Sampai edisi terakhirnya, Mawar Berbisa, Si Buta tetap seorang tanpa kekasih. Ia banyak menampik cinta. "Dia sesungguhnya bertualang jauh karena patah hati," kata Syamsudin. Sewaktu masih melek, Barda memiliki calon istri bernama Marni Dewiyanti. Tatkala Mata Malaikat mengobrak-abrik desanya, ia mengira Marni tewas. Ternyata Marni masih hidup. Dan yang membuatnya pedih, ia kawin dengan Sapu Jagat.

"Lelaki ini menutup mata hatinya untuk wanita," tambah Syamsudin. Memang ada banyak wanita yang jatuh hati kepada Barda. Mereka rela dijodohkan tapi Barda menghindar. Di Sorga yang Hilang (1974), ketika ia mengejar Tri Tawadewi yang melarikan bayi, tiba-tiba bidadari dari Gunung Waukara itu telanjang bulat. "Hm..., jangan berlagak alim. Aku tahu dadamu sesak seperti punyaku. Rabalah." Ia menggoda.… Masih mulus dan padat kan? Iya enggak? Kau boleh menyentuh sesuka hati," juga pinta Naomi dalam Manusia Kelelawar dari Karang Hantu (1988). Semuanya tak membuat luluh Si Buta. Bahkan ketika Catherine, seorang peneliti asal Jerman di Sumbawa, sengaja mandi di depannya sembari mendendangkan Blue Danube. Si Buta tetap dingin bagai batu cadas.

Satu-satunya penampilan Si Buta yang tak garang ada dalam edisi Badai Teluk Bone (1972). Ia seperti tersipu-sipu. Ceritanya, menjelang sebuah upacara suci, Si Buta diharuskan berendam dalam bak bunga agar bersih dan wangi. Ia tak mau, tapi seorang putri bernama Trisilah menyindir, "Kata Mas Arswendo, Anda selama ini tak pernah mandi."

Memang, Arswendo Atmowiloto pernah menulis di harian Kompas (10 Agustus 1979) betapa Si Buta jarang memperlihatkan kebiasaan sehari-harinya. Agaknya itu direspons Ganes. Maka ia membuat jagoannya itu berendam dalam bak. Ikat kepala dan baju sisik ularnya dicopot. Trisilah dan konconya, dayang-dayang gembrot, mengguyur kepala Barda, sampai rambutnya yang gondrong itu basah lemes. "Demi menghormat upacara suci, apa boleh buat dimandikan seperti bayi…," gumam Barda sembari mesam-mesem.

***

Bila karakter Si Buta dari Gua Hantu hidup, itu karena coretan Ganes dipandang banyak pencinta sangat ekspresif. Ganes mahir dalam menyusun rangkaian panel. Antara panel satu dan lain bersambung, mampu menghanyutkan pembaca. Sementara itu, banyak komikus yang rangkaian panelnya seperti loncat-loncat.

"Dari sisi angle, gambar Ganes juga luar biasa, cuma panelnya tertib, tidak seperti komik Jepang, yang besar-kecil variasi panelnya sangat radikal," kata Agus Leonardus, membandingkan dengan komik-komik impor Jepang yang pelukisannya canggih, memakai prinsip-prinsip variasi lensa kamera.

Dari mana Ganes memperoleh keterampilan menggambar? Jarang diketahui, Ganes muda pernah bekerja beberapa bulan di rumah pelukis Lee Man Fung, pelukis top Indonesia. Di situ ia mempelajari teknis melukis. Ganes pernah aktif dalam perkumpulan seniman lukisan amatiran yang terdiri orang Tionghoa peranakan. Setelah perkumpulan bubar karena anggotanya terkena PP 10, ia pernah kuliah di Akademi Seni Rupa, Yogya.

Seterusnya ia bekerja di sebuah biro reklame di Jakarta, menjadi pelukis poster film. Pada 1965 ia mendapat tawaran membuat komik oleh seorang temannya yang memiliki percetakan. Api di Rimba Belantara adalah komik pertamanya. Berkisah tentang perjuangan. Selanjutnya ia banyak membuat komik komedi, misteri, detektif, dan koboi.

Tapi memang seri Si Buta yang muncul tahun 1967 itu yang paling dipersiapkannya. Masa kecil Ganes, yang sempat diungsikan ke pesantren di Labuhan, Banten, itu sedikit banyak berpengaruh atas cerita-ceritanya. "Papa sering cerita, di sana ia melihat latihan silat," kata Gienardy Santosa, putra sulung Ganes. Mungkin itulah yang membuatnya tak canggung melukiskan gerak-gerak jurus. Pernah ada pendapat ide Si Buta didapat Ganes dari gabungan antara Zatoichi, pendekar buta Jepang, sementara monyetnya dari komik Tarzan. Tapi, dalam sebuah wawancaranya dengan tabloid Citra, ia mengaku inspirasinya datang dari sebuah film koboi yang ia tak ingat lagi judulnya. Ia hanya ingat jagoannya memiliki cambuk.

Ganes sesungguhnya tak pernah menjelajah ke pelosok Indonesia. "Papa kerap membeli buku gambar busana atau rumah adat seluruh Nusantara," cerita Gienardy. Dari sana, ia mengimajinasikan suatu daerah di luar Jawa. "Juga terutama peta setempat." Misalnya, ketika pesawat Twin Otter jatuh pada Maret 1977 di Tinombala, Ganes tergerak melahirkan petualangan Si Buta berlatar belakang Tinombala. Ia melakukan riset menginventaris seluk-beluk Tinombala, geografi, serta nama-nama setempat. Pada 1978 lahirlah seri Kabut Tinombala. "Karena tinggal di Gunung Sahari, yang dekat dengan Tanjung Priok, Papa juga sering nongkrong, mencari info dari para pelaut asal Bugis," tambah Gienardy.

Melihat sambutan dua edisi yang diterbitkan Agus, Gienardy bermaksud meneruskan penerbitan ulang Si Buta. Kali ini atas nama Pustaka Satria Sejati, dengan penerbitan yang lebih urut—mulai dari edisi pertama Si Buta dari Gua Hantu, Misteri Borobudur, Banjir Darah di Pantai Sanur. "Ada rencana juga untuk membuat edisi Si Buta dengan terjemahan bahasa Inggris," kata Gienardy. Lebih penting lagi, juga ada rencana membuat cerita baru Si Buta dengan ilustrator baru.

"Saya ingin mencari ilustrator yang mendekati karakter goresan Papa," kata Gienardy. Kita ingat Superman dan Batman pun mengalami regenerasi ilustrator. Menurut Gienardy, sekarang ini memang banyak ilustrator bagus, tapi gayanya terkontaminasi oleh manga, komik Jepang. Untuk itu mungkin ia akan membuat semacam audisi, mengundang siapa yang berminat menjadi pengganti Ganes. Lalu diseleksi oleh para pemerhati komik atau kolektor Si Buta. "Yang penting goresannya tidak membuat sosok kewibawaan Si Buta luntur," kata Andy Wijaya, dari Komik Indonesia. Ia belajar dari pengalaman. Dulu pernah ada yang menggambar Si Buta, tapi tak terpancar rasa gagahnya.

Sang ilustrator baru tak harus membuat cerita. Bisa saja ide cerita direncanakan oleh tim khusus. Bila itu terwujud, pembaca bisa memuaskan keingintahuan yang tak terjawab dalam seri lama. Misalnya, mengapa selama ini Si Buta tak pernah mengembara ke Sumatera. Atau mengapa selama ini tak pernah diceritakan siapa ibunya.

Si Buta juga tak luput dari salah satu penyakit komik lama Indonesia: struktur atau plot ceritanya bagian terakhir kerap dibuat-buat. Penerbit menekan, memburu agar penulis menyelesaikan karyanya secepat mungkin, akibatnya: problema kompleks, penuh ketegangan, tiba-tiba harus berakhir dengan penyelesaian sepele. Walhasil, terkesan jadi antiklimaks. Plot juga sering bertindihan: masalah utama belum lagi mengalir, tapi tiba-tiba muncul sub-plot panjang yang bergerak terus, tak ingat kembali. Dengan tim yang baik, tentunya plot bisa lebih terencana.

Kabar baik lain, ada juga yang tertarik mengangkat Si Buta ke sinetron. Selama ini aktor pemeran Si Buta telah berganti tiga kali: Ratno Timoer, Hadi Leo, dan Tyas Wahono. Si Buta baru ini skenarionya tengah digodok. Menurut Gienardy, cerita sinetron akan memperlebar komik. Di edisi pertama komik, misalnya, Mata Malaikat tiba-tiba datang membunuh ayah Barda, tanpa diketahui penyebabnya. "Di sinetron nanti akan dikisahkan permasalahan antara Mata Malaikat dan ayah Barda saat masih muda," begitu Gienardy.

Semoga menarik. Sebab komiknya, apa boleh buat, selama ini selalu lebih bagus daripada filmnya. Semoga juga mencari monyetnya lebih gampang. Sebab selama ini lutung yang ikut syuting memerankan Wanara selalu mati karena stres.

Di ujung malam. Di atas bukit. Di bawah sinar bulan. Seorang pendekar, dengan monyetnya, berdiri seorang diri. Ia buta, tapi tak buta jiwanya. Ia merenungi pengalamannya menemui berbagai keserakahan di pelosok-pelosok Indonesia. Lalu menggumamkan sebuah keyakinan yang sampai kapan pun masih relevan: "Kejahatan mungkin dapat menang di sini, tapi tak dapat menguasai…."

Seno Joko Suyono

Dari : majalah.tempointeraktif.com

1 komentar:

  1. ane setuju tuh kalau komik si buta dari gua hantu di cetak ulang semua ...yang pertama kali ane yang beli..

    BalasHapus